Tampilkan postingan dengan label CERBUNG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERBUNG. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Mei 2017

Bab 5 : Brother Complex


“Orang bilang cinta tak bisa disalahkan. Lantas, apakah cintaku ini juga berhak mendapat pembelaan? Atau justru ancaman?”

-&&&-


Suasana pagi ini terasa sangat berbeda, lebih hidup dan berwarna. Rein terus memperhatikan kakaknya yang saat ini tengah fokus menyetir, sosok malaikat tampan yang selalu menjaganya, mengukir dan mengenalkan betapa indahnya dunia kepadanya. Indah, sebuah kata penuh makna yang sampai sekarang belum dapat Rein mengerti, ia tak pernah menemukan keindahan lagi setelah kejadian naas beberapa tahun silam, kecuali keluarga dan mentari pagi yang selalu menghangatkannya. Ah, ia hampir lupa dengan kebiasaannya yang  satu itu, padahal selama ini ia tak pernah melupakannya. Tapi rupanya sosok di sebelahnya ini mampu membuatnya melupakan segalanya, membuat gravitasi seolah hanya tertuju padanya.

Gadis itu menutup matanya perlahan, mengenyahkan pikiran-pikiran kotor yang selama ini mengganggunya. Rein tahu bahwa ia memang tak waras, dan ia tak bisa menyangkalnya. Semua itu terasa nyata, perasannya tak pernah bisa ia bohongi, bahwa ia mencintainya, sangat.

“Rein… kau tak apa?” ucap Ichsan di sebelahnya dengan pandangan khawatir, dan Rein merasakannya, lagi. Ia merasa senang bahwa kakaknya amat perduli padanya. Itu tak wajar, tapi bagaimana lagi? Bahkan ia tak bisa menghentikan perasaannya sendiri.

“Kakak, apa kau mencintaiku?”

“Aku sangat mencintaimu Rein, melebihi diriku sendiri”

Rein tersenyum kecut mendengar jawaban spontan Ichsan, ia tahu betul jika Ichsan mencintainya, sebagai adik tentunya. Bolehkah ia sedikit berbangga diri? Tapi sisi lain dalam hatinya meronta, meminta lebih atas hak yang sudah didapatkannya. Rasanya ia tak bisa hidup dalam kungkungan atmosfer yang sama dan berbagi oksigen dengan Ichsan jika ia terus melakukannya, menumbuhkan benih cinta yang tak pernah bisa gugur.

-&&&-

Ichsan menghentikan mobilnya tepat didepan gerbang sekolah Rein, menatap beberapa murid yang tengah berlalu-lalang memasuki sekolah adiknya itu.

“Hey! Kita telah sampai, apa kau begitu mencintaiku hingga tak ingin kita berpisah walaupun hanya beberapa jam?” Ichsan beringsut, membantu melepas seatbelt Rein sembari menahan tawa tatkala mendapati wajah adiknya yang tertekuk. Oh, bukankah itu menggemaskan? Hiburan pagi yang amat manis bukan?

“Ya, dan aku sangat berterima kasih karena kau telah bersedia mengantarku wahai Voldemort yang tampan!”  Balas Rein tak kalah sengit, sebenarnya perkataan kakaknya memang benar hingga membuatnya membeku beberapa detik sebelum ia kembali tersadar. Ah, andai Ichsan bukan kakak kandungnya, ia pasti akan sangat bersyukur.

“Cepatlah, nanti kau terlambat tuan putri”

“Alasan klasik untuk mengusirku. Sampai jumpa pangeran tampan” Rein melangkahkan kakinya keluar diiringi tawa kakaknya yang kembali meledak. Ah, sungguh pintar ia membuatku jatuh cinta, gumam Rein dalam hati. Deru mobil yang ia dengar membuatnya terpaksa berbalik, melambaikan tangannya pada seseorang di dalam mobil itu yang berangsur meninggalkan area sekolah. Gadis itu mendesah kecewa tatkala mobil kakaknya menghilang ditikungan yang hanya berjarak sekitar 120m dari tempatnya berdiri.

“Hey, rupanya kau sudah sampai. Aku tak melihatmu dibus tadi” Rein memundurkan langkahnya, sedikit kaget karena sebuah suara tiba-tiba menginterupsi dirinya. Calvin, astaga anak itu. Akhir-akhir ini rasanya dia selalu muncul di hadapannya, entah itu dimimpinya ataupun dunia nyata, ah ya justru semakin sering semenjak Rein bertemu langsung dan melihat rupanya.

“Jangan mengagetkanku, Aksa!”

“Apa? Kau memanggilku siapa?”

“Ah sudahlah…” gadis itu berjalan tergesa, meninggalkan Calvin yang berdiri mematung menatap kepergiannya. Aksa? Siapa Aksa? Apakah dia kekasihnya yang baru saja mengantarnya tadi? Pikir Calvin dalam hati.

“Sial! Kemana dia akan pergi?”

 Calvin memutuskan berjalan mengikuti langkah Rein tatkala netranya tak sengaja menangkap siluet seorang gadis yang amat ia kenali berjalan menuju arah yang berlawanan dengan kelasnya. Jika seharusmya Rein berbelok kearah kanan, ia justru berbelok ke kiri yang merupakan area perpustakaan. Tapi lagi-lagi gadis itu membuatnya bingung, kali ini ia memang tak berbelok, melainkan terus berjalan melewati pintu yamg seharusnya ia masuki sejak tadi. Ah, apa dia akan pergi ke taman? Tapi bukankah taman itu sudah ia lewati? Kemana sebenarnya Reiin akan pergi? Benar-benar gadis aneh.

-&&&-

Rein merasa diawasi sedari tadi, tapi ia tak ingin ambil pusing. Hanya ada satu hal yang terlintas dikepala cantiknya, menenangkan diri dan menjauh dari kebisingan yang hanya akan membuat kepalanya serasa akan meledak. Dan tempat itu hanya ada disini, Rein menemukannya ketika ia masih kelas 10, sebuah hutan buatan yang terletak dibalik perpustakaan, tak heran jika tak banyak orang yang tahu tempat ini, mungkin mereka berpikir kenapa harus repot berjalan kaki jauh-jauh jika mereka bisa mengunjungi tempat yang lebih indah dan dibandingkan tempat terpencil seperti ini.

Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, menatap satu-persatu pohon yang tumbuh di hutan ini, sedikit berbeda dari hutan lainnya memang, jika hutan para umumnya ditumbuhi pohon pinus dan pohon-pohon lain yang Rein tak tahu namanya, justru keseluruhan hutan ini hanya ditumbuhi oleh pohon maple, dan beruntungnya kali ini daun-daun indah itu tengah berubah warna menjadi kuning kecokelatan. Rein menghirup napas dalam-dalam, membiarkan udara segar mengisi penuh rongga dadanya yang terasa sesak, lantas menghembuskannya dengan perlahan, ia memejamkan matanya, merasakan desau angin menyapa kulit lembutnya, membawa beban pikirannya bersama nyanyian alam yang menyambut kedatangannya.

Andai ia dapat mengunjungi tempat ini setiap hari, tapi tak mungkin. Hal itu hanya akan membuat orang-orang, terutama Alyn curiga. Bukannya ia pelit, tak mau membagi sedikit informasi memgenai tempat indah yang tersembunyi dalam sekolah mereka. Rein hanya… ia hanya ingin melindunginya, ia tak dapat membayangkan bagaimana nantinya tempat uni jika semua orang tahu, tak akan ada lagi tempat hening yang mampu meredam.semua emosinya kecualu perpustakaan. Ya, sayangnya perpustakaan kini juga sudah beralih fungsi menjadi tempat favorit untuk berkencan bagi mereka yang tak ingin hubungannya terekspos, dengan alibi belajar bersama tentunya. Siapa yang akan curiga? Tentu Reun, dia adalah pengamat yang handal, meskipun begitu ia tak ingin berkicau, memilih diam dan menikmati hidupnya sendirim

Lagi-lagi perkembangan zaman yang menjadi sebabnya, ada kalanya Rein berpikir ingin hidup pada zaman dahulu dimana manusia masih mencintai dan melindungi alam dengan sepenuh hati mereka. Tidak seperti sekarang, manusia  seakan berlomba mengeksploitasinya, bahkan mengganti semua pekerjaan yang dahulu dilakukan oleh manusia dengan alat yang sekali tekan akan bekerja secara otomatis. Canggih? Tentu, tapi tak ada lagi kebersamaan, hanya ada ego dan sikap apatis dimana-mana.

Tapi Rein bersyukur, setidaknya masih ada sesuatu yang dapat ia nikmati keindahannya sebelum tempat tinggalnya berubah menjadi kota dengan robot besi di setiap sudut kota, atau bahkan menjadi kota besi yang berkarat. Tidak, Rein menggelengkan kepalanya beberapa kali, tersadar bahwa lamunannya telah membawanya terlalu jauh, dan sungguh Rein tak ingin hal itu benar-benar terjadi.

Tap… tap… tap

“Suara apa itu?” guman Rein lirih. Ia sdikit waspada mengingat lokasi ini jauh dari keramaian, dan itu akan mempermudah apabila ada seseorang yang ingin berbuat jahat kepadanya. Baru saja ia hendak kabur, memilih berlari dan menyelamatkan diri tetapi ia urungkan niatan itu setelah melihat Calvin berdiri tak jauh dari tempatnya. Pria itu tersentum, menampakkan lesung pipit dikedua pipinya yang membuatnya semakun terlihat manis.

Perlahan Calvin berjalan mendekatinya, mengikis sedikit demi sedikit jarak yang ia buat sendiri. Sebenarnya tadi ia ingin langsung mendekat pada Rein, tapi melihat gadis itu amat menikmati kegiatannya, ia menjadi segan untuk mengganggu.

“Apa kau sudah lama berdiri disana?”

“Ya, sejak kau menginjakkan kakimu disini. Aku tak tahu apa masalahmu, tapi kau bisa bercerita padaku” Jawaban polos Calvin membuatnya sedikit tersipu. Ah, kenapa ia jadi sangat mudah jatuh hati? Bahkan Rein terlah jatuh hati kepada namanya jauh sebelum ua nengenal pria itu! Ya, Tuhan! Padahal kedatangannya kemari tak lain adalah karena rasa cintanya yang menggebu terhadap kakalnya sendiri. Ini terasa tak masuk akal, pria itu mampu merasuki hati Rein semudah ia memasuki kehidupannya, menggantikan peran Ichsan didalamnya tanpa sisa.

“Kau akan menganggapku gila jika aku bercerita padamu”

“Benarkah?”

“Ya, aku menyukai seirang pria” Calvin terikik mendengar kalimat awal Rein. Menurutnya itu lucu, bagaimana bisa gadis itu berasumsi bahwa Calvin akan menganggapnya gila hanya karena gadis itu menyukai seorang pria, bukankah itu normal? Atau…

“Hey! Aku normal, aku gadis tulen. Tak seperti yang kau pikirkan, oke?” Calvin berdehem, menghentikan tawanya kerika Rein mulau menarik napasnya, bersuap untuk melanjutkan ceritanya

“Dia terpaut 7 tahun dariku, aku memanggilnya Chan, dan dia seorang polisi muda yang tampan. Dia sangat menyayangiku dan selalu melindungiku, bahkan ia berkata bahwa ia mencintaiku melebihi dirinya sendiri”

“Lalu apa yang salah? Kalian saling mencintai”

“Tak semudah yang kau pikirkan Aksa…” Rein berhenti sejenak, menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya, ia melakukan hal itu beberapa kali untuk mengurangi rasa gugupnya. Ini adalah kali pertamanya Rein bercerita kepada seseorang, dan orang itu adalah orang yang baru saja dikenalnya kemarin. Entahlah, ia hanya percaya begitu saja dengan pria di hadapannya ini yang tengah memasang ekspresi penasaran dan ekspresi lain yang tak terbaca

“Dia kakakku”

“APA?”


-&&&-

Bab 4 : Sebuah Tanda


"Goresan itu terus bergerak membentuk setengah lingkaran, dilanjutkan dengan garis lurus dan diakhiri dengan tanda titik dibawahnya"

-&&&-

Ketenangan malam memang tak bisa diragukan lagi. Malam menjanjikan kedamaian, ia memberikan waktu untuk berpikir, merenung, dan memperbaiki kesalahan yang pernah tercipta. Kesalahan? Bukankah semua manusia pernah melakukan kesalahan? Lantas bagaimana dengan mereka yang menganggap kesalahan tak bisa ditoleransi? Apa orang tersebut menganggap dirinya dewa? Bahkan seorang dewa pun dapat melakukan kesalahan bukan?

Sesuatu yang telah hancur mungkin tak akan bisa seindah dahulu, persis seperti sedia kala. Tapi apa salahnya memperbaiki? Setidaknya ia dapat meminimalisir kehancuran yang ada. Mengubah runtuhan-runtuhan fondasi menjadi sebuah bangunan kecil, meskipun masih tercipta jarak antar tiap kepingan. Dan apa itu artinya? Bangunan itu menunggu, menunggu seseorang yang berbaik hati menambal sekat itu dengan kasih sayang, menempatinya dengan suka cita dan menebar cinta didalamnya.

-&&&-

Jarum jam terus berdetik, seolah tak memiliki jeda untuk sekedar istirahat. Rein yang sedari tadi memejamkan matanya berusaha untuk terlelap akhirnya menyerah, menatap jengah ke arah jam yang seolah bekerja sama dengan kelopak matanya agar ia tak segera jatuh ke dalam dunia mimpi yang selalu diagung-agungkan oleh para kaum pendamba kasih sayang. Pasti kalian tahu kan namanya? Jomblo! Hehe

Rein beranjak dari ranjangnya menuju jendela. Percuma saja berusaha keras untuk terlelap jika pikirannya masih terpusat kepada seseorang. Dan sialnya, sulit sekali mengenyahkannya! Rein tak habis pikir bagaimana bisa pria itu dengan mudah menyelinap lantas memasuki pikirannya dan menghancurkan acara tidurnya. Ini tak bisa dibiarkan, bisa-bisa kondisi kantung matanya semakin mengkhawatirkan.

Rein meringis pelan membayangkan hal itu terjadi padanya. Cukuplah dengan wajahnya yang sedikit berminyak, jangan ditambah kantung hitam! Apalagi jerawat? Tamatlah rupa Rein yang saat ini masih syukur terbilang standar, bahkan sangat biasa.

Perlahan Rein membuka gorden yang menghalangi pandangannya. Tiba-tiba ia ingin melihat bintang, melihat pesona Antariksanya saat bertabur bintang. Namun, justru kekecewaanlah yang harus ia dapatkan. Bukan bintang yang ia dapati, melainkan rintikan hujan yang semakin lama semakin deras. Ah, sudahlah. Rein hanya bisa pasrah akan keadaan saat ini, akhir-akhir ini memang sering turun hujan, dan ia tak bisa menyalahkan siapa pun atas apa yang terjadi.

Ia bertanya-tanya, apa yang tengah ia rasakan sebenarnya? Jatuh cinta? Orang bilang jatuh cinta adalah perasaan ketika jantung berdetak melebihi batas normal ketika berdekatan dengan lawan jenis. Tapi ia tak merasakannya, justru ketenanganlah yang merasuki sukmanya, membuatnya betah berlama-lama dengan pria itu. Tunggu, kenapa langsung memikirkan soal jatuh cinta? Bukankah Rein baru pertama kali bertemu dengan pria itu? Sayangnya, pendengaran dan pikirannya telah merekam dengan jelas siapa itu Antariksa.

Sesuatu kembali melintasi pikirannya. Seketika ia teringat perkataan Lani dahulu bilamana Antariksa adalah orang yang sulit untuk didekati. Benarkah? Lantas bagaimana dengan sikapnya tadi pagi yang terbilang tak masuk akal? Apa dia menutupinya? Tapi untuk apa?

Antariksa… ah maksudnya Calvin. Entah kenapa ia lebih menyukai nama Antariksa, walaupun semua orang memanggilnya Calvin. Sepertinya aku harus membiasakan diri, pikir Rein dalam hati.

Mengingat pria itu, rasanya memang ada yang aneh. Pertama kali ia melihatnya, terasa jelas aura dingin begitu melingkupinya hingga membuat Rein bergidik ngeri. Ia terkesan dingin dan acuh, walaupun kedamaian tak sedikit pun terlepas darinya. Tapi untuk kedua kalinya, kenapa malah tak semengerikan itu? Ia terlihat santai, menyenangkan, dan sedikit kurang waras.

Jika boleh berharap, Rein ingin memasuki kehidupannya lebih dalam. Bukan hanya untuk menguak kebenaran yang ada, tapi ia memang tertarik. Calvin biasa saja, ia tak setampan pria yang duduk di sebelahnya tadi pagi, pria yang menjabat sebagai ketua OSIS tahun ini dan merangkap sebagai ketua kelas di kelasnya, Dion. Ia juga tak sepintar Bagas yang selalu mendapatkan nilai tertinggi di jurusan Akuntansi. Tubuhnya juga tak sebagus Rio yang menjabat sebagai kapten basket. Dan mereka semua berkumpul dikelasnya. Tapi kenapa malah Calvin yang membuatnya tertarik? Apa karena ia telah mendengar begitu banyak cerita dari Lani tentang pria itu?

Nah, mengingat Lani. Rein juga sebenarnya agak bingung. Bukankah Calvin  jurusan Akuntansi sama sepertinya? Bagaimana bisa dulu ia sekelas dengan Lani yang berada di jurusan RPL? Jika ia pindah pun pasti ia akan menjadi adik kelasnya, bukan malah sekelas dengannya. Semua ini membuatnya bingung. Entahlah, siapa Calvin Antariksa sebenarnya?

Rein kembali melirik jam dindingnya, waktu telah menunjukkan pukul 11.45 p.m. Selama itukah dirinya merenung? Bukankah terakhir kali ia melihat jam masih menunjukkan pukul 09.54 p.m.? Rein mendesah berat, mengingat kebiasaannya yang tak kunjung hilang malah makin menjadi. Ia lantas berbalik dan kembali bergelung di bawah selimut tebalnya. Ia berharap mimpi akan membawanya menuju kedamaian antariksa dan mempertemukannya di esok hari yang cerah beratapkan awan putih dengan panorama alam yang Tuhan suguhkan setiap pagi. Ya, sunrise, betapa Rein sangat menyukainya.

-&&&-

Rein sudah siap dan duduk cantik sembari memakan sarapannya. Ternyata semalam kakaknya pulang, dan ia sudah tak bisa lagi berbuat seenaknya atau hidup bebasnya terancam ditangan kakaknya tercinta, Ichsan Sting. Ia benar-benar pengacau kehidupannya. Pernah sekali ia diawasi oleh beberapa bodyguard berbadan besar dan selalu mengenakan seragam hitam. Rein sebenarnya heran, apa mereka selalu memakai pakaian itu setiap saat? Atau mereka memiliki berlusin-lusin pakaian yang sama? Bukankah amat monoton? Sungguh membosankan. Ah, lupakan! Yang jelas, semua itu kakaknya lakukan hanya karena ia terjatuh dari sepeda dan lututnya terluka. Betapa berlebihannya seorang Ichsan Sting kan? Bahkan ia lebih mengherankan daripada pada bodyguardnya yang menyeramkan.

"Wahh tumben pagi-pagi sarapan. Biasanya langsung pergi tanpa pamit" sindir kakak Rein, Ichsan yang baru saja datang. Ia mendudukkan dirinya disebelah Rein dan merebut roti panggang yang tengah disantapnya. Rein hanya mendengus pelan, sungguh kurang ajar kakaknya ini, padahal roti itu hanya tinggal setengah, dan Rein malas membuatnya lagi.

"Hari ini kakak yang antar" ujar Ichsan ditengah-tengah kegiatan sarapan mereka berdua. Atau hanya Ichsan yang sarapan?

"Aku bisa naik bus sekolah Kak" tolak Rein dengan cepat

"Ini perintah, dan kakak tidak suka dibantah"

"OH TUHAAAN!!!" Teriak Rein frustasi sembari mengentak-entakkan kakinya seperti anak kecil. Rein pasrah, jika kakaknya sudah seperti ini tak ada yang bisa dilakukannya lagi. Rein tak ingin mendapat masalah pagi-pagi seperti ini, berhubung kakaknya adalah seorang polisi yang selalu dididik bak tentara. Jadi ia harus disiplin. Ingat, disiplin! Sedangkan Ichsan yang melihat tingkah adiknya hanya tersenyum gemas, Rein masih tetap menjadi gadis kecilnya yang lucu dan menggemaskan.

Ichsan telah berjanji kepada ayahnya bahwa ia akan menjaga Rein dan ibunya, 2 orang wanita yang sangat mereka cintai, dengan nyawa sebagai taruhannya, terutama Rein. Pasalnya, Ichsan yang paling mengerti bagaimana menderitanya ayahnya 9 tahun silam, saat Rein terbaring tak berdaya di atas bankar dengan tubuh bersimbah darah. Hingga sesuatu terjadi padanya, hal paling mengerikan yang bisa setiap saat menyerangnya, menghilangkan nyawa gadis kecilnya, Rein.

Ichsan tak mau hal itu terjadi. Ayahnya bekerja mencari nafkah untuk mereka. Dan disinilah Ichsan berperan, menggantikan sang ayah untuk melindungi bidadari-bidadarinya.


-&&&-

Senin, 20 Maret 2017

Bab 3 : Kecewa



"Rupamu mungkin tak begitu meyakinkan. Tapi aku tak punya pilihan lain kecuali menunggu sisi lain dirimu yang mengagumkan"

-&&&-

"Namaku Calvin Antariksa" katanya, sembari mengulum senyum.

Nama itu… Nama yang tak asing lagi terdengar, nama yang terus terngiang selama 2 tahun terakhir. Nama yang mampu membuat bayangan akan keindahan melambung hingga angkasa, persis seperti nama yang disandangnya. Dan pemilik nama itu… Benarkah? Apa ini nyata? Sungguh?

"Ahh benar-benar tak dapat dipercaya"

"Apa?"

"Hah?" Kaget Rein, tak menyangka mulutnya akan merealisasikan apa yang ada di pikirannya.

"Apanya yang tak dapat dipercaya?"

"Ah tidak, aku hanya… Entahlah"

"Rein, kau baik-baik saja kan? Wajahmu terlihat sedikit pucat" Tanya Calvin sarat akan kekhawatiran. Sedangkan Rein hanya tersenyum canggung, memikirkan takdir macam apa yang telah mempertemukannya dengan seorang Calvin Antariksa.
.
.
.
*flashback

Langit terlihat begitu mendung, menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Rein terus melonggokkan kepalanya, mencari keberadaan seseorang dan berharap agar orang itu tak meninggalkannya. Berkali-kali ia melirik guru yang masih setia menerangkan suatu sejarah. Bukan sejarah penting, melainkan sejarah hidup dan percintaannya ketika ia masih remaja. Bahkan, tak ada seorangpun yang berminat memperhatikannya, semua murid terlihat bosan dan memilih berkutat dengan pekerjaan yang menurut mereka lebih penting. Lucu kan? Walaupun begitu, Rein merasa sedikit iba. Sedikit? Ya, hanya sedikit. Karena sejujurnya ia juga agak kesal, jam pulangnya mundur, dan itu bisa menjadi suatu bencana.

"Ya, cukup untuk hari ini. Sampai jumpa di minggu berikutnya" Rein bernapas lega ketika guru itu menutup pertemuan mereka dan mulai berderap meninggalkan kelas. Tak ingin bertele-tele, Rein langsung memasukkan peralatan tulisnya secara asal lantas keluar dari kelas dengan terburu-buru. Pasalnya, sudah 1 minggu Alyn tak masuk sekolah, berlibur katanya. Jadi, tak ada yang perlu Rein tunggu lagi.

Pandangannya menyapu seluruh koridor yang sudah lumayan sepi. Mungkin karena keadaan gelap membuat mereka tak betah berlama-lama disini dan memilih untuk segera pulang. Setidaknya bergelung di bawah selimut dan ditemani camilan serta coklat hangat yang menggugah selera lebih menyenangkan dibanding membeku diantara kungkungan air hujan. Bukan begitu?

"Rein… cepatlah. Aku menunggumu disini" Rein berbalik, lantas berlari mengikuti sumber suara. Terlihat selulet seseorang disana, meskipun agak samar, tapi Rein amat mengenalnya.

"Lani? Kau tak meninggalkanku?"

"Tentu, yang suka ke perpustakaan kan hanya kau. Apa Pak Wasto berulah lagi?" Rein hanya tersenyum maklum, tak berniat menanggapi pertanyaan Lani. Lagipula, bukankah menggunjing itu dosa? Apalagi jika yang digunjingkan adalah orang yang telah memberikan kita ilmu. Bisa bayangkan sebesar apa dosanya?

"Cepatlah, sebentar lagi hujan turun. Omong-omong, apa kau menungguku seorang diri?" Tanya Rein basa-basi sembari menarik Lani untuk mulai berlari bersamanya. Rein merasa sedikit bersalah, mengingat sahabatnya yang satu ini memang sangat takut akan kegelapan.

"Tentu"

"Tapi aku tak yakin"

"Aku ditemani teman kelasku"

"Siapa?"

"Oke, Calvin menemaniku, Calvin Antariksa. Dia pria yang baik, cerdas, dan lucu. Menurutku begitu, tapi dia agak misterius. Ada sesuatu di dalam dirinya yang terisolasi, tak tersentuh. Dan apa kau tahu? Tak ada seorangpun yang bisa mendekatinya" Jelas Lani panjang lebar. Cukup membuatku penasaran sebenarnya.

"Bukankah kau baru saja mendekatinya?"

"Ishh bukan seperti itu maksudku. Kau akan tahu sendiri nanti"

"Kapan?"

"Tanya saja pada Tuhanmu"

"Apa dia tampan?"

"Tergantung pandanganmu"

"Maksudmu?"

"Dia tampan jika menurutmu tampan, dan dia jelek jika menurutmu jelek"

"Aku tidak mengerti" Lani memutar bola matanya malas. Lelah berbicara dengan gadis lemot seperti Rein. Beberapa orang mengatakannya menggemaskan, tapi bagi Lani, Rein sangat menjengkelkan.

"Sebenarnya kau sepolos apa sih?" Rein hanya menampakkan cengiran khasnya ketika Lani mulai menebar aura-aura yang menunjukkan dirinya sebentar lagi akan meledak. Jadi, Rein lebih memilih menyimpan rasa penasarannya dibanding mendengar omelan Lani yang tak putus-putus.

Biarlah seorang pria yang bernama Calvin Antariksa tetap menjadi tanya dihatinya. Menemani hatinya yang sepi, dan menebar kehangatan setiap kali Lani menceritakan kisahnya. Setidaknya hingga takdir mempertemukan ia dan pria itu.

*flashback off

"Rein… sebaiknya kita ke UKS" Rein sedikit tersentak, tepukan-tepukan lembut di pipinya sedikit demi sedikit membawanya kembali ke dunia nyata, membuyarkan bayangan kejadian 2 tahun silam saat pertama kali Rein mendengar nama itu.

"Aku baik-baik saja, sungguh" Rein mengulas senyum sembari bergerak cepat meninggalkan kelas. Sesuatu harus dipastikan, ya harus!

"Hey! Mau ke mana kau?" Teriak Alyn dari ujung kelas tatkala Rein telah mencapai ambang pintu. Rein hanya mendengus kasar, lantas melanjutkan tujuannya. Tak perduli dengan Alyn yang saat ini tengah mengejarnya.

"Bukankah Pak Tirta melarang kita berkeliaran?"

"Aku tak tahu"

"Dan aku sedang memberitahumu. Sebenarnya, ke mana kau akan pergi?" Rein menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya dan menatap Alyn garang.

"Alyn… aku hanya ingin ke toilet. Apa kau akan terus mengikutiku?" Ujar Rein dengan wajah memelas. Alyn berdecih, lantas pergi meninggalkannya dengan kaki yang dientak-entakkan seperti anak kecil.

"Seharusnya bilang dari tadi. Padahal aku berharap kau ingin membolos saja. Aku bosan dikelas" Baru saja Rein beranjak, tapi sebuah teriakan membuatnya terkekeh, dasar Alyn nakal.

Kakinya terus melangkah, membelah lapangan upacara yang sekarang tampak lengang. Berbeda jauh dengan ucapannya beberapa menit lalu kepada Alyn. WC? Bahkan ia sama sekali tak melewatinya. Ya, itu hanya alibi. Rein ingin menjawab tanya yang selalu mengganggu tidur panjangnya. Tapi kenapa ia merasa sedikit kecewa tatkala pertanyaan itu terjawab? Entahlah, dan ia harus memastikannya pada seseorang. Lani, dia harus bertanggungjawab.

Tak terasa dirinya sudah berdiri didepan gedung RPL. Ya, sekolahnya memang menyediakan tiap gedung berbeda untuk tiap jurusan. Dan usaha Rein memang tak main-main, jarak antara gedung Akuntansi dan gedung RPL sangatlah jauh. Jadi, apa tak ada yang ingin memberikan tepuk tangan untuknya?

Rein menghela napas berat. Mungkin ia mampu mencapai gedung RPL tanpa kendala sedikit pun. Tapi dimana kelas Lani? Rein tak tahu, ia hanya menuruti kata hatinya.

Rein menatap gedung itu lamat-lamat. Berharap jika sekiranya ada seseorang yang dikenalnya. Tapi lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan. Ia baru ingat jika ia tak memiliki banyak teman, apalagi dari jurusan RPL.

"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus kembali lagi? Ah padahal sudah sejauh ini" bisik Rein pelan kepada dirinya sendiri.

Rein melangkahkan kakinya meninggalkan gedung RPL dengan berat hati. Sedikit kecewa karena usahanya sia-sia. Ia tergolong siswa yang disiplin, dan kini ia melanggar perintah Pak Tirta hanya untuk mendapat kekecewaan. Marah? Tentu, Rein marah kepada dirinya sendiri yang terlalu lemah menurutnya. Seharusnya ia bisa mengatasi masalah hatinya sendiri. Dan jika ia kecewa dengan jawaban akan khayalannya selama ini apa Lani yang patut disalahkan? Tidak, ini murni karena khayalan liar Rein. Khayalan yang bahkan sampai saat ini mengganggu pikirannya.

Antariksa, ia begitu menyukai nama itu. Entahlah dengan pemilik namanya. Rein merasa ketenangannya tiba-tiba hilang ketika pria itu menyebutkan namanya. Seharusnya tak seperti ini. Apa tidak ada yang lebih mengagumkan lagi? Ia kecewa. Tapi, apakah itu pantas? Tak seharusnya Rein menyalahkan rupa seseorang. Mungkin arti dari Antariksa bukanlah pria yang tampan seperti khayalannya. Tapi, ketenangan yang akan menyelimuti dirinya tatkala berada dalam ruang yang sama dengannya.

Seperti saat Rein menatap Antariksa untuk pertama kalinya di dalam bus pagi ini. Damai dan mengagumkan, manik matanya seolah memerangkap Rein untuk menjelajahi kegelapan disana. Kegelapan yang mungkin akan membawanya menuju keindahan tiada tara, Antariksa. Dan Rein lupa akan hal itu, ia terjebak dalam labirin pesona Antariksa bahkan sebelum ia mengetahui nama pria itu. Menyalahkan rupa? Mungkin itu kesalahan besar yang Rein perbuat. Ia tak begitu siap akan kejutan yang menyerangnya bertubi-tubi dalam sekali waktu.

"Aku sudah merasakan ketenanganmu. Kapan kau akan menunjukkan keindahanmu, Antariksa?" Bisik Rein pelan sembari tersenyum. Lantas melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Ia berjalan perlahan untuk kembali ke kelasnya, kembali dalam lingkup kedamaian seorang Antariksa.


-&&&-

Sabtu, 11 Maret 2017

Bab 2 : Dia? Calvin Antariksa?




"Dunia memang sempit. Sesempit pandangan mereka terhadapmu serta kenyataan yang menghimpitku secara paksa"

-&&&-

Rein bergegas menuju kelasnya setelah melihat papan pengumuman. Memang tak butuh waktu lama untuk mencari namanya, ia hanya butuh waktu beberapa detik untuk memastikan bahwa pandangannya tak salah dan tersesat dikelas lain. Selain itu, ia juga ingin menghindari teman-teman yang tadi berangkat bersamanya, tentu saja ia malu, terlebih pada pria itu. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu, rasanya ia ingin menenggelamkan dirinya ke dalam samudra yang luas agar tak ada yang dapat menemukannya dan mengejeknya karena kejadian tadi.

Kelas barunya terkesan sepi, hanya ada beberapa orang yang sering ia lihat tapi ia lupa nama mereka. Jadi, daripada terjebak dalam kecanggungan dan harus kembali berbasa-basi seperti tahun-tahun yang lalu, ia memilih keluar dan duduk dibangku panjang yang memang sudah disediakan didepan masing-masing kelas. Jujur saja, Rein memang tak terlalu suka bersosialisasi, bahkan hingga saat ini mungkin hanya Alyn yang setia menempel padanya seperti lem.

Rein sempat heran, menurutnya Alyn adalah gadis yang manis, cerdas, mudah bergaul, dan tak sedikit yang menaruh rasa kagum padanya, bahkan memintanya menjadi kekasih mereka. Alyn juga dapat dengan mudah berteman dengan gadis-gadis populer disekolahnya. Tapi kenapa Alyn memilih dirinya? Menolak berlian dan memilih batu sungai yang tak bernilai?

"Rein…" Rein sedikit terkejut ketika sebuah suara yang  begitu nyaring menyuarakan namanya. Siapa lagi kalau bukan Alyn? Alyn berlari dengan senyum yang amat lebar lantas menubruk Rein yang masih bingung akan tingkah sahabatnya itu

"Hey! Apa kau gila?" Tanya Rein heran.

"Aku tak menyangka! Rein, aku mencintaimu. Kau memang jodohku! Aaa… aku benar-benar bahagiaaa…" Rein yang tak mengerti hanya diam mendengarkan ocehan Alyn yang tak tahu kapan berhenti. Merasa tak mendapat respon positif, Alyn mendengus kesal, lantas menatap Rein dengan tatapan mengintimidasi

"Apa?"

"Apa kau tak bahagia huh?"

"Memangnya kenapa? Kau mendapatkan voucer dinner dengan Ko Chen-tung?"

Alyn memijit kepalanya yang seketika pening. Berbicara dengan Rein memang diperlukan kesabaran ekstra, selain agak lemot, otaknya juga dipenuhi dengan tokoh-tokoh fiksi yang ada dalam novelnya. Tapi anehnya, ia dapat menyerap materi pelajaran dengan baik. Aneh kan?

Baru saja Alyn akan melangkah meninggalkan Rein, sebuah tangan mencekal pergelangan tangannya. Tak perlu pikir panjang, Alyn berbalik dan menatap gadis yang kini tengah terkikik geli hingga matanya hanya terlihat segaris.

"Hehe maafkan aku. Aku hanya bercanda. Kau sensitif sekali sih? Jadi, kita sekelas?"

Alyn berteriak girang hingga membuat beberapa siswa yang tengah berlalu-lalang memandangnya heran. Rein yang menyadari bahwa mereka tengah menjadi pusat perhatian, merasa sedikit sungkan karena telah membuat keributan, ia tersenyum kecil dan mengangguk singkat sebagai permintaan maaf lantas mencubit perut Alyn dengan gemas. Rein berdecak sebal, bisa-bisanya anak ini.

"Aw! Rein… apa sih?"

"Diamlah! Ayo masuk dan cari tempat duduk" Ujar Rein masa bodoh, sembari menarik ujung kerah belakang seragam Alyn yang dapat diraihnya. Alyn cemberut kesal, tapi ia hanya pasrah mengikuti kemauan sahabatnya. Ia tak perduli akan duduk dimanapun, asalkan Rein yang menjadi teman sebangkunya. Alyn pintar, Rein apalagi? Dia sudah seperti perpustakaan berjalan. Lantas, apa yang perlu ditakutkan?

Jika ada yang mengatakan 'dunia selebar daun kelor', mungkin benar adanya. Baru saja Rein menduduki bangkunya yang berada dibaris ketiga dan kolom ke dua dari kanan, seorang pria memasuki kelasnya, ia berjalan seakan dunia miliknya, tak perduli jika ada orang lain yang sedang menggunjingnya atau menatapnya kagum. Untuk pilihan kedua, mungkin hanya berlaku bagi Rein. Pada dasarnya, pria itu biasa saja, tapi Rein merasakan aura yang berbeda saat bersamanya, dan itulah daya tarik yang Rein sukai.

Rein mengucek matanya, sekedar mengecek pandangannya yang mungkin saja salah. Bisa saja kan ia tengah berhalusinasi akibat kejadian tadi? Tapi tidak, Rein benar-benar dalam keadaan sadar. Pria itu, orang yang sama yang dapat membuat kelopak matanya membuka lebar dan bertahan tak berkedip untuk beberapa waktu. Pria itu memasuki kelasnya, dan itu artinya…

Rein menyikut Alyn pelan setelah pria itu mendudukkan dirinya tepat di belakang Rein. Sebenarnya Rein bersyukur karena pria itu bersikap biasa saja seolah tak pernah terjadi apapun diantara mereka, tapi ada sedikit rasa kecewa yang menyelimuti hatinya. Apa pria itu melupakannya? Kenapa dia tak mengenalnya? Ah! Yang benar saja, mereka kan memang tak saling mengenal, pikir Rein dalam hati.

"Apa?"

Rein memberikan kode pada Alyn untuk mendekatkan dirinya lantas membisikkan sesuatu sepelan mungkin agar tak ada yang dapat mendengarnya kecuali Alyn.

"Kau tahu siapa pria yang duduk dibelakangku?"

"Iya, memangnya kenapa? Kau suka padanya ya?" Ujar Alyn sembari melayangkan tatapan menggoda.

"Siapa bilang? Aku hanya penasaran kok. Lagipula, aku tak tahu ternyata dia juga kelas 12 seperti kita"

Alyn terkekeh kecil mendengar Rein yang membalas godaannya dengan nada kesal. Lucu saja rasanya berhasil menggoda Rein yang memang susah digoda, bahkan sampai sekarang tak ada seorangpun pria yang dapat meluluhkan hati sahabatnya itu. Kecuali pria itu, pria aneh dengan sejuta pesona. Mungkin Alyn harus memberikan hadiah padanya karena dia berhasil membuat sahabat yang tak jauh anehnya dengan pria itu menaruh rasa penasaran padanya.

-&-

Sudah 35 menit lebih Rein dan semua siswa kelas XII Akuntansi 1 menunggu, namun sampai saat ini belum ada satupun guru yang memasuki kelasnya, entah itu perkenalan atau memulai pelajaran. Seluruh siswa terlihat bosan, begitu pula dengan Rein. Terlebih karena pendengarannya yang terlampau tajam membuatnya mau tak mau mendengar bisik-bisik yang terdengar persis seperti dengungan lebah, dan jika tidak salah mereka tengah membicarakan pria yang duduk dibelakangnya.

Panas, suasana kelas masih terasa panas walaupun kipas angin sudah disetel full. Hatinya juga panas. Entah kenapa ia merasa sedikit kesal mendengar teman kelasnya membicarakan pria misterius itu, setidaknya itulah yang berhasil tertangkap oleh telinganya.

Semua murid mendesah lega tatkala seorang memasuki kelas mereka. Dilihat dari penampilannya, ia sepertinya belum terlalu tua, atau memang masih muda?

"Selamat pagi anak-anak"

"Pagi Pak" ucap seluruh siswa serentak

"Pagi Kak" Semua murid tertawa ketika seseorang memanggil pria yang mereka taksir akan menjadi wali kelasnya itu dengan sebutan kakak.

"Maaf sebelumnya, saya terlambat karena ada urusan sebentar. Nama saya Tirta dan saya akan menjadi wali kelas kalian untuk setahun mendatang"  Ujar guru itu sembari tersenyum lantas mengedarkan pandangannya untuk mengamati muridnya satu-persatu.

"Hari ini kita hanya akan perkenalan untuk memudahkan proses belajar. Saya tahu kalian pasti sudah saling mengenal, tapi apa salahnya kan? Dimulai dari absen pertama, dan setelah selesai kalian bebas melakukan apapun, asal jangan berisik" Semua siswa bersorak girang, siapa sih yang tak suka tawaran seperti ini? Tujuan kami bersekolah memang untuk belajar, untuk menuntut ilmu, tapi pelajaran kosong tetaplah menjadi favotit semua siswa. Benar kan?

"Ah ya, barangkali ada yang ingin kalian tanyakan tentang saya sebelum mulai perkenalan?" Suasana kelas yang sudah mulai tenang setelah kegaduhan tadi kembali berisik, didominasi oleh gadis-gadis penggemar para pria tampan. Cogan, begitu mereka menyebutnya. Banyak yang mereka tanyakan, tak hanya satu tapi sepertinya mereka menanyakan lebih dari 1 pertanyaan secara bersamaan. Tak banyak yang dapat ditangkap oleh pendengaran Rein, dan dia juga tak ingin ikut campur dalam urusan mereka. Rein memiliki dunia sendiri, dan ia cukup menikmatinya.

"Cukup, cukup. Sepertinya saya akan memperkenalkan diri saya lain waktu, dan untuk perkenalan antar teman, daya yakin kalian bisa melakukannya sendiri. Srkarang saya ada urusan mendadak. Mohon kerjasamanya, dan ingat jangan berisik" Ucap Pak Tirta sembari melirik arloji yang terpasang ditangan kirinya. Sedangkan, gadis-gadis yang tadi terlihat sangat antusias hanya bisa mendesah kecewa. Sebenarnya Rein sudah menduga hal itu, sejak tadi memang wali kelasnya terlihat agak buru-buru, jadi ia tak terlalu terkejut.

Rein merasa sedikit aneh, seperti ada seseorang yang memperhatikannya. Tapi setelah melihat sekeliling, tak ada yang terlihat demikian, bahkan mereka terlihat asyik berkenalan satu sama lain, termasuk Alyn yang kini tengah menggoda pria yang terlihat agak pemalu dibangku pojok kelas mereka.

Sesaat Rein tersadar, ada 1 orang lagi yang belum diliriknya. Ya, pria itu. Tapi, apa mungkin ia memperhatikannya? Tiba-tiba saja kursinya bergerak, sontak membuat Rein panik dan berdiri, mengira bahwa guncangan itu mungkin saja gempa. Tapi ketika ia berdiri, kenapa tiba-tiba gempa itu berhenti? Hmm, pasti ada yang salah, pikirnya.

Berbalik, Rein menatap lamat-lamat pria yang tengah menahan tawanya, yang malah terlihat menggelikan dimata Rein.

"Apa kau yang menggoyangkan kursiku?"

"Bhahaha… haha" Bukannya menjawab, pria itu justru melepaskan tawanya, membuat seluruh penjuru keras melirik mereka dengan pandangan tak suka. Rein mendengus agak keras, sedikit menyesal pernah berpikir untuk menyukai pria itu. Benar kata teman-teman barunya, dia aneh. Dan hmm… agak gila.

"Hey… apa kau marah? Aku tak bermaksud seperti itu, sungguh" Ucap pria itu dengan nada sesal yang kentara, tentu saja setelah ia meredakan tawanya yang terdengar sangat tidak elite. Membuat Rein mau tak mau menarik sudut bibirnya, membentuk senyum. Ia juga merasa tak tega, bukankah sesama teman memang harus saling memaafkan?

"Omong-omong namaku…"

"Agatha Rein? Benar?"

"Bagaimana kau tahu? Bahkan baru kali ini aku melihatmu"

Pria itu tersenyum, menampakkan lesung pipit di kedua pipinya. Manis, bahkan sangat manis, membuat Rein terhipnotis untuk sesaat.

"Namaku Calvin Antariksa"
.
.
.
Dan waktu terasa berhenti, mengejutkan dunia atas apa yang baru saja diketahuinya. Dia? Calvin Antariksa?

-&&&-



 

Sabtu, 04 Maret 2017

Bab 1 : Pria Asing

"Aku sangat menyukai suasana saat berada di dekatmu. Tenang, indah, menakjubkan. Persis seperti dirimu"

-&&&-

Keindahan mentari selalu diagung-agungkan oleh segelintir orang, tak khayal pula jika seorang gadis berponi itu turut menikmati keajaiban Tuhan yang seorang pun tak dapat menyangkal pesonanya. Rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai melambai-lambai bagai nyiur yang mempercantik keindahan pantai, membuat sang mentari menutup dirinya karena iri.

Sejenak gadis itu mengecek arloji yang terpasang di pergelangan tangan kanannya. Gadis itu bernapas lega ketika melihat jarum jam yang masih menunjukkan pukul 5.45 pagi, yang berarti masih ada waktu 15 menit lagi sebelum bus sekolah datang menjemputnya.

"Rein… ayolah, sebentar lagi bus akan datang" teriak gadis lain dari arah belakang gadis yang diketahui bernama Rein itu. Rein berbalik menatap gadis manis yang tengah berlari menuju ke arahnya, gadis yang telah menemani harinya selama 2 tahun terakhir, Araalyn Fransiska namanya.

Rein tersenyum, menampakkan deretan giginya yang putih lantas menghampiri Alyn yang tak kunjung sampai mendekatinya.

"Sudah kubilang, tempat itu berbahaya. Kenapa kau tak pernah mendengarku?" Sungut Alyn marah, tapi Rein hanya membalasnya dengan cengiran lebar. Ya bagaimana lagi? Rein menyukai suasana tenang yang tercipta saat dirinya duduk di tepi tebing itu, menikmati semilir angin pagi yang menularkan kesegaran, harum bunga lavender yang bermekaran di bawah kakinya yang menjuntai, serta ciptaan Tuhan yang memberinya ketenangan batin. Dan semua itu hanya dapat disaksikannya setiap pagi. Bagaimana Rein bisa menolak ketengan yang menjanjikan seperti itu? Ia butuh pikiran yang segar untuk kembali bergelung dengan buku-buku tebal yang sebentar lagi akan memenuhi pikirannya bukan?

Alyn yang mulai kesal akhirnya menarik pergelangan tangan Rein yang hanya pasrah, seakan tak ada niatan untuk melawan atau sekedar membela diri. Begitulah Rein, memang terkadang ia menjengkelkan tapi percayalah, dia satu-satunya sahabat yang mencintainya dengan tulus. Dan sekali lagi, Alyn tak akan mau kehilangannya, meski ditukar dengan batangan emas dan berlian sekalipun.

Tebing itu memang cukup jauh dari halte tempat mereka menunggu bus, mereka juga harus melewati taman dan menyebrangi jalan raya yang sudah dipastikan akan ramai seiring meningginya mentari. Jadi, mereka harus bergegas jika tak ingin ketinggalan.

Rein dan Alyn bernapas lega ketika melihat beberapa teman mereka masih berdiri di dekat halte, yang artinya sudah pasti bus itu belum datang dan meninggalkan mereka.

Tak beberapa lama, bus itu datang. Ah, rupanya kali ini bus datang lebih awal, untung saja Alyn cepat menariknya hingga ia tak ketinggalan. Pasalnya, Rein tak akan sadar keadaan apabila sudah berada tebing itu sebelum mentari meninggi dan memamerkan panasnya yang menyengat.

Rein menaiki bus itu dengan perlahan, pandangannya menjelajah mencari tempat yang sekiranya bisa ia duduki bersama sahabatnya. Namun nihil, hanya ada 2 bangku yang tersisa, 1 diantaranya sudah terisi oleh salah satu temannya dari kelas lain, dan sisanya diduduki oleh seorang pria yang belum pernah Rein temui selama 2 tahun bersekolah di SMKN 1 Bawang. Rein sedikit bingung, tapi ia mencoba untuk tak ambil pusing. Toh, mungkin saja Rein lupa, atau dia anak baru. Ah, entahlah.

Perlu diketahui, hari ini adalah hari pertama Rein  menginjak dikelas 12, jadi meskipun selama libur semester lalu Rein tak akan bangkit dari mimpi indahnya sebelum jam dinding menunjukkan pukul 8.00 dan jam wekernya berbunyi sebanyak 7 kali, tapi hari pertama selalu spesial bagi Rein, hari yang akan mengubah kehidupannya untuk setahun yang akan datang dan seterusnya. Jadi, tentu saja hari ini ia tak boleh terlambat.

Rein berhenti sejenak hendak berbalik dan memutuskan untuk duduk bersama tetangga kelasnya daripada duduk dengan pria yang tak diketahuinya itu. Tapi baru saja kakinya melangkah, Alyn sudah terlebih dahulu menyambar tempat duduk incarannya. Rein mendengus kesal, sedangkan empunya hanya tersenyum manis sembari menangkupkan kedua tangannya didepan dada, -memohon-

Rein lagi-lagi pasrah, lantas berjalan gontai dan mendudukkan dirinya disebelah pria asing itu. Rasa penasarannya yang kuat membuatnya takut-takut melirik pria yang tengah mendengarkan lagu lewat earphone sembari menutup kedua matanya. Tanpa sadar, sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan indah. Rein turut merasakan kedamaian ketika melihat wajah pria itu yang tenang bak genangan air dan tak memiliki beban dalam hidupnya. Tapi Rein tak ingin menduga-duga, bisa saja pikirannya tak sesuai dengan realita. Seperti sungai yang tenang, didalamnya terdapat arus yang deras, bisa saja seperti itu. Tapi sekali lagi, tentu saja Rein tak pernah berharap demikian.

Rein terpaku ketika tiba-tiba pria itu membuka mata dan mendapati dirinya tengah memandang intens pria itu. Tapi, ketika Rein ingin beralih, justru ia tak sengaja memandang manik matanya. Tak ada yang dapat dilakukannya kecuali merutuki dirinya sendiri, pasalnya meskipun pikirannya menyuruhnya untuk berhenti, tapi ia malah ingin menyelami dan menenggelamkan dirinya dalam lingkaran hitam itu. Terhipnotis, mungkin rasanya tak jauh berbeda dengan yang tengah Rein rasakan saat ini.

Pria itu memandang Rein dengan alisnya yang mengernyit bingung. Tak tahu apa yang harus diperbuatnya, sebentar lagi bus yang mereka tumpangi akan sampai, tapi sepertinya gadis di sampingnya tak berniat melepaskan pandangannya yang berbinar-binar dari dirinya. Tunggu, dari dirinya? Ya, dan sepertinya Rein lupa akan hal itu.

Pria itu berdehem pelan ketika dirasa bus akan segera berhenti, sekedar menyadarkan Rein yang masih saja membeku. Tapi, ternyata ia salah. Rein baru sadar setelah ia berdehem sebanyak 3 kali dengan suara yang cukup keras, hingga membuat semua penghuni bus menoleh kearahnya dan melemparkan tatapan bertanya.

Rein gelagapan, tentu saja. Wajahnya langsung memerah bak tomat dan dadanya naik turun karena detak jantungnya yang bekerja melebihi batas normal.

"Maaf, maaf, maaf…" Rein lantas bangkit dari duduknya dengan terburu-buru sembari menggumakan kata maaf berkali-kali. Dia sungguh malu, bagaimana bisa ia menatap seorang pria selekat itu? Namun, baru saja beberapa langkah, kakinya menyandung sesuatu yang membuatnya limbung dan mendarat mulus di lantai bus. Sontak semua mata memandangnya, sebagian ada yang tertawa, menatapnya iba dan ada pula yang memilih tak perduli.

"Rein…" Alyn hendak membantunya. Tapi Rein bergerak cepat, bangkit lantas berlari meninggalkan bus tanpa sepatah kata pun dan memasuki area sekolahnya dengan perasaan yang tak dapat ia gambarkan.

Pria itu sedikit merasa bersalah ketika melihat Rein, bagaimanapun ia yang membuat Rein bertingkah bodoh seperti itu. Tapi untuk apa? Tetap saja kan itu salah Rein sendiri? Tentu saja ia tak bertanggungjawab atas semua yang terjadi pada gadis itu. Tapi… Entahlah, yang jelas ia merasakannya. Dan sekali lagi, ia terlalu sangsi untuk mengucapkan maaf ataupun kalimat yang dapat menenangkan gadis itu, bahkan untuk tersenyum pun rasanya ia tak mampu.

"Maafkan aku" Ujar pria itu pelan ketika dirasa hanya dirinya yang berada dibus itu, lantas bangkit dan berjalan menuju papan pengumuman yang akan menunjukkan kelas tempatnya belajar untuk jangka waktu setahun mendatang. Untunglah, keadaannya tak seramai biasanya, jadi ia cukup leluasa untuk mencari namanya di dalam daftar.

Kelas XII Akuntansi 1
1. Agatha Rein
2. Agistin Nur Aisyah
3. Alifia Zulian
4. Andi Yulianto
5. Araalyn Fransiska
6. Bagas Saktiawan
7. Brigas Fachry
8. Calvin Antariksa

Sejenak ia terpaku, bukan tentang kelas mana yang akan ditempatinya. Tapi, seseorang yang akan menjadi teman kelasnya nanti. Ada 1 nama yang mengganggu pikirannya, Agatha Rein. Apakah Rein adalah Agatha Rein yang akan jadi teman sekelasnya? Gadis yang ia ketahui namanya saat seorang temannya memanggil namanya tatkala ia terjatuh? Gadis yang sama yang sempat menatapnya dengan tatapan berbinar-binar? Mungkinkah?


-&&&-