Sabtu, 11 Maret 2017

Bab 2 : Dia? Calvin Antariksa?




"Dunia memang sempit. Sesempit pandangan mereka terhadapmu serta kenyataan yang menghimpitku secara paksa"

-&&&-

Rein bergegas menuju kelasnya setelah melihat papan pengumuman. Memang tak butuh waktu lama untuk mencari namanya, ia hanya butuh waktu beberapa detik untuk memastikan bahwa pandangannya tak salah dan tersesat dikelas lain. Selain itu, ia juga ingin menghindari teman-teman yang tadi berangkat bersamanya, tentu saja ia malu, terlebih pada pria itu. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu, rasanya ia ingin menenggelamkan dirinya ke dalam samudra yang luas agar tak ada yang dapat menemukannya dan mengejeknya karena kejadian tadi.

Kelas barunya terkesan sepi, hanya ada beberapa orang yang sering ia lihat tapi ia lupa nama mereka. Jadi, daripada terjebak dalam kecanggungan dan harus kembali berbasa-basi seperti tahun-tahun yang lalu, ia memilih keluar dan duduk dibangku panjang yang memang sudah disediakan didepan masing-masing kelas. Jujur saja, Rein memang tak terlalu suka bersosialisasi, bahkan hingga saat ini mungkin hanya Alyn yang setia menempel padanya seperti lem.

Rein sempat heran, menurutnya Alyn adalah gadis yang manis, cerdas, mudah bergaul, dan tak sedikit yang menaruh rasa kagum padanya, bahkan memintanya menjadi kekasih mereka. Alyn juga dapat dengan mudah berteman dengan gadis-gadis populer disekolahnya. Tapi kenapa Alyn memilih dirinya? Menolak berlian dan memilih batu sungai yang tak bernilai?

"Rein…" Rein sedikit terkejut ketika sebuah suara yang  begitu nyaring menyuarakan namanya. Siapa lagi kalau bukan Alyn? Alyn berlari dengan senyum yang amat lebar lantas menubruk Rein yang masih bingung akan tingkah sahabatnya itu

"Hey! Apa kau gila?" Tanya Rein heran.

"Aku tak menyangka! Rein, aku mencintaimu. Kau memang jodohku! Aaa… aku benar-benar bahagiaaa…" Rein yang tak mengerti hanya diam mendengarkan ocehan Alyn yang tak tahu kapan berhenti. Merasa tak mendapat respon positif, Alyn mendengus kesal, lantas menatap Rein dengan tatapan mengintimidasi

"Apa?"

"Apa kau tak bahagia huh?"

"Memangnya kenapa? Kau mendapatkan voucer dinner dengan Ko Chen-tung?"

Alyn memijit kepalanya yang seketika pening. Berbicara dengan Rein memang diperlukan kesabaran ekstra, selain agak lemot, otaknya juga dipenuhi dengan tokoh-tokoh fiksi yang ada dalam novelnya. Tapi anehnya, ia dapat menyerap materi pelajaran dengan baik. Aneh kan?

Baru saja Alyn akan melangkah meninggalkan Rein, sebuah tangan mencekal pergelangan tangannya. Tak perlu pikir panjang, Alyn berbalik dan menatap gadis yang kini tengah terkikik geli hingga matanya hanya terlihat segaris.

"Hehe maafkan aku. Aku hanya bercanda. Kau sensitif sekali sih? Jadi, kita sekelas?"

Alyn berteriak girang hingga membuat beberapa siswa yang tengah berlalu-lalang memandangnya heran. Rein yang menyadari bahwa mereka tengah menjadi pusat perhatian, merasa sedikit sungkan karena telah membuat keributan, ia tersenyum kecil dan mengangguk singkat sebagai permintaan maaf lantas mencubit perut Alyn dengan gemas. Rein berdecak sebal, bisa-bisanya anak ini.

"Aw! Rein… apa sih?"

"Diamlah! Ayo masuk dan cari tempat duduk" Ujar Rein masa bodoh, sembari menarik ujung kerah belakang seragam Alyn yang dapat diraihnya. Alyn cemberut kesal, tapi ia hanya pasrah mengikuti kemauan sahabatnya. Ia tak perduli akan duduk dimanapun, asalkan Rein yang menjadi teman sebangkunya. Alyn pintar, Rein apalagi? Dia sudah seperti perpustakaan berjalan. Lantas, apa yang perlu ditakutkan?

Jika ada yang mengatakan 'dunia selebar daun kelor', mungkin benar adanya. Baru saja Rein menduduki bangkunya yang berada dibaris ketiga dan kolom ke dua dari kanan, seorang pria memasuki kelasnya, ia berjalan seakan dunia miliknya, tak perduli jika ada orang lain yang sedang menggunjingnya atau menatapnya kagum. Untuk pilihan kedua, mungkin hanya berlaku bagi Rein. Pada dasarnya, pria itu biasa saja, tapi Rein merasakan aura yang berbeda saat bersamanya, dan itulah daya tarik yang Rein sukai.

Rein mengucek matanya, sekedar mengecek pandangannya yang mungkin saja salah. Bisa saja kan ia tengah berhalusinasi akibat kejadian tadi? Tapi tidak, Rein benar-benar dalam keadaan sadar. Pria itu, orang yang sama yang dapat membuat kelopak matanya membuka lebar dan bertahan tak berkedip untuk beberapa waktu. Pria itu memasuki kelasnya, dan itu artinya…

Rein menyikut Alyn pelan setelah pria itu mendudukkan dirinya tepat di belakang Rein. Sebenarnya Rein bersyukur karena pria itu bersikap biasa saja seolah tak pernah terjadi apapun diantara mereka, tapi ada sedikit rasa kecewa yang menyelimuti hatinya. Apa pria itu melupakannya? Kenapa dia tak mengenalnya? Ah! Yang benar saja, mereka kan memang tak saling mengenal, pikir Rein dalam hati.

"Apa?"

Rein memberikan kode pada Alyn untuk mendekatkan dirinya lantas membisikkan sesuatu sepelan mungkin agar tak ada yang dapat mendengarnya kecuali Alyn.

"Kau tahu siapa pria yang duduk dibelakangku?"

"Iya, memangnya kenapa? Kau suka padanya ya?" Ujar Alyn sembari melayangkan tatapan menggoda.

"Siapa bilang? Aku hanya penasaran kok. Lagipula, aku tak tahu ternyata dia juga kelas 12 seperti kita"

Alyn terkekeh kecil mendengar Rein yang membalas godaannya dengan nada kesal. Lucu saja rasanya berhasil menggoda Rein yang memang susah digoda, bahkan sampai sekarang tak ada seorangpun pria yang dapat meluluhkan hati sahabatnya itu. Kecuali pria itu, pria aneh dengan sejuta pesona. Mungkin Alyn harus memberikan hadiah padanya karena dia berhasil membuat sahabat yang tak jauh anehnya dengan pria itu menaruh rasa penasaran padanya.

-&-

Sudah 35 menit lebih Rein dan semua siswa kelas XII Akuntansi 1 menunggu, namun sampai saat ini belum ada satupun guru yang memasuki kelasnya, entah itu perkenalan atau memulai pelajaran. Seluruh siswa terlihat bosan, begitu pula dengan Rein. Terlebih karena pendengarannya yang terlampau tajam membuatnya mau tak mau mendengar bisik-bisik yang terdengar persis seperti dengungan lebah, dan jika tidak salah mereka tengah membicarakan pria yang duduk dibelakangnya.

Panas, suasana kelas masih terasa panas walaupun kipas angin sudah disetel full. Hatinya juga panas. Entah kenapa ia merasa sedikit kesal mendengar teman kelasnya membicarakan pria misterius itu, setidaknya itulah yang berhasil tertangkap oleh telinganya.

Semua murid mendesah lega tatkala seorang memasuki kelas mereka. Dilihat dari penampilannya, ia sepertinya belum terlalu tua, atau memang masih muda?

"Selamat pagi anak-anak"

"Pagi Pak" ucap seluruh siswa serentak

"Pagi Kak" Semua murid tertawa ketika seseorang memanggil pria yang mereka taksir akan menjadi wali kelasnya itu dengan sebutan kakak.

"Maaf sebelumnya, saya terlambat karena ada urusan sebentar. Nama saya Tirta dan saya akan menjadi wali kelas kalian untuk setahun mendatang"  Ujar guru itu sembari tersenyum lantas mengedarkan pandangannya untuk mengamati muridnya satu-persatu.

"Hari ini kita hanya akan perkenalan untuk memudahkan proses belajar. Saya tahu kalian pasti sudah saling mengenal, tapi apa salahnya kan? Dimulai dari absen pertama, dan setelah selesai kalian bebas melakukan apapun, asal jangan berisik" Semua siswa bersorak girang, siapa sih yang tak suka tawaran seperti ini? Tujuan kami bersekolah memang untuk belajar, untuk menuntut ilmu, tapi pelajaran kosong tetaplah menjadi favotit semua siswa. Benar kan?

"Ah ya, barangkali ada yang ingin kalian tanyakan tentang saya sebelum mulai perkenalan?" Suasana kelas yang sudah mulai tenang setelah kegaduhan tadi kembali berisik, didominasi oleh gadis-gadis penggemar para pria tampan. Cogan, begitu mereka menyebutnya. Banyak yang mereka tanyakan, tak hanya satu tapi sepertinya mereka menanyakan lebih dari 1 pertanyaan secara bersamaan. Tak banyak yang dapat ditangkap oleh pendengaran Rein, dan dia juga tak ingin ikut campur dalam urusan mereka. Rein memiliki dunia sendiri, dan ia cukup menikmatinya.

"Cukup, cukup. Sepertinya saya akan memperkenalkan diri saya lain waktu, dan untuk perkenalan antar teman, daya yakin kalian bisa melakukannya sendiri. Srkarang saya ada urusan mendadak. Mohon kerjasamanya, dan ingat jangan berisik" Ucap Pak Tirta sembari melirik arloji yang terpasang ditangan kirinya. Sedangkan, gadis-gadis yang tadi terlihat sangat antusias hanya bisa mendesah kecewa. Sebenarnya Rein sudah menduga hal itu, sejak tadi memang wali kelasnya terlihat agak buru-buru, jadi ia tak terlalu terkejut.

Rein merasa sedikit aneh, seperti ada seseorang yang memperhatikannya. Tapi setelah melihat sekeliling, tak ada yang terlihat demikian, bahkan mereka terlihat asyik berkenalan satu sama lain, termasuk Alyn yang kini tengah menggoda pria yang terlihat agak pemalu dibangku pojok kelas mereka.

Sesaat Rein tersadar, ada 1 orang lagi yang belum diliriknya. Ya, pria itu. Tapi, apa mungkin ia memperhatikannya? Tiba-tiba saja kursinya bergerak, sontak membuat Rein panik dan berdiri, mengira bahwa guncangan itu mungkin saja gempa. Tapi ketika ia berdiri, kenapa tiba-tiba gempa itu berhenti? Hmm, pasti ada yang salah, pikirnya.

Berbalik, Rein menatap lamat-lamat pria yang tengah menahan tawanya, yang malah terlihat menggelikan dimata Rein.

"Apa kau yang menggoyangkan kursiku?"

"Bhahaha… haha" Bukannya menjawab, pria itu justru melepaskan tawanya, membuat seluruh penjuru keras melirik mereka dengan pandangan tak suka. Rein mendengus agak keras, sedikit menyesal pernah berpikir untuk menyukai pria itu. Benar kata teman-teman barunya, dia aneh. Dan hmm… agak gila.

"Hey… apa kau marah? Aku tak bermaksud seperti itu, sungguh" Ucap pria itu dengan nada sesal yang kentara, tentu saja setelah ia meredakan tawanya yang terdengar sangat tidak elite. Membuat Rein mau tak mau menarik sudut bibirnya, membentuk senyum. Ia juga merasa tak tega, bukankah sesama teman memang harus saling memaafkan?

"Omong-omong namaku…"

"Agatha Rein? Benar?"

"Bagaimana kau tahu? Bahkan baru kali ini aku melihatmu"

Pria itu tersenyum, menampakkan lesung pipit di kedua pipinya. Manis, bahkan sangat manis, membuat Rein terhipnotis untuk sesaat.

"Namaku Calvin Antariksa"
.
.
.
Dan waktu terasa berhenti, mengejutkan dunia atas apa yang baru saja diketahuinya. Dia? Calvin Antariksa?

-&&&-



 

Minggu, 05 Maret 2017

Cara Membuat Rainbow Fried Rice

(untuk 1 porsi)



Bahan:
-          1 bowl nasi putih
-          brokoli
-          1 buah wortel
-          1 buah tomat
-          1 genggam kapri
-          seledri
-          1 buah jagung manis
-          2 siung bawang putih
-          3 siung bawang merah
-          cabai rawit sesuai selera
-          daun bawang
-          garam
-          lada bubuk
-          mentega

cara membuat:
-          potong sayuran menjadi dadu kecil (bisa dicincang kasar)
-          iris tomat memanjang
-          sisir jagung manis (usahakan agar biji jagung masih sedikit utuh)
-          haluskan cabai rawit dan bawang putih
-          cincang daun seledri
-          iris daun bawang sesuai selera
-          panaskan mentega, kemudian tumis bumbu yang telah dihaluskan
-          masukan daun bawang, tumis sebentar biarkan masih berwarna hijau lalu tambahkan tomat dan kapri, tumis sampai layu
-          tuangkan nasi kemudian aduk rata
-          tambahkan garam dan lada bubuk, aduk rata kembali
-          masukkan daun seledri, aduk sebentar lalu angkat
-          rainbow fried rice siap disajikan

It`s so simple right?
Buat kalian yang suka bawa bekal ke sekolah wajib coba resep di atas okay ;)

Salam Artcounting.

Hukum Mengucapkan Salam

Assalamualaikum Wr. Wb

Alhamdulillah, alhamdulillahirobbil ‘alamin wabihi nasta’inu `ala umuu riddunya waddin assolatu wassalamu ‘ala asrofil ambya i wal mursalin wa ‘ala alihi wasahbihi ajma’in amaa ba’du.

Apa kabar akhi dan ukhti yang baik hati ? semoga hari ini kita sekalian diberi ridho oleh Allah SWT dalam menjalankan aktivitas yaa... amin ya rabb.

Pertama-tama ucap syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kita sehat serta nikmat sehingga kita masih bisa beraktivitas seperti biasa.  Tidak lupa sholawat serta salam senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yang kita nantikan syafaatnya di hari kiamat nanti aminn ya rabbal ‘alamin.

Alhamdulillah kami diberi kesempatan untuk memberikan sedikit ilmu pengetahuan yang Insyaallah bermanfaat dan berpahala. Ilmu pengetahuan tidak hanya pelajaran umum yaa ukhti, karena informasi  yang kita peroleh sebenarnya juga ilmu pengetahuan lhoo.

Alhamdulillah kita semua muslim yaa :D kalau kita semua bertemu apa yang akan akhhi dan ukhti ucapkan pertama kali ? hayoo.. apa hayoo...

Yupp ! Assalamualaikum Wr. Wb. Pasti kata tersebut yang akan muncul pertama kali ketika ummat muslim bertemu satu sama lain dan muslim yang lain akan menjawab Wa’alaikumsallam Wr.Wb. Kenapa? Karena 

Abuhuraira r.a berkata : Nabi SAW bersabda : Orang yang berkendaraan harus memberi salam pada yang berjalan dan yang jalan memberi salam pada yang duduk dan rombongan yang sedikit pada yang banyak. (Bukhari, Muslim).

Abuhurairah r.a berkata :  Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda : kewajiban seorang muslim terhadap sesama muslim lima : Menjawab salam, menjenguk orang sakit, menghantar jenazah, mendatangi undangan, mendo’akan orang jika bersin membaca Alhamdulillah.
(Bukhari, Muslim)

Nahh dari hadits di atas akhi dan ukhti pastinya sudah tahu yaa kalau hukum mengucapkan salam adalah sunnah tapi menjawab salam adalah wajib. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menebarkan salam antar sesama Muslim. Tahukah ukhti dan akhi arti Assalamualaikum itu apa ? belum tahu ? ya udah yuuk baca lagi kita kupas arti Asslamualaikum. Yuuuk capcusss :D

Sebelum terbitnya fajar, orang Arab biasanya menggunakan ungkapan-ungkapan yang lain seperti Hayakallah yang artinya Semoga Alah menjagamu tetap hidup. Kemudian Islam memperkenalkan ungkapan Assalamualaikum yang artinya Semoga  keselamatan, keberkahan dan kasih sayang (rahmat) dari Allah SWT menyertai kalian.
Dilihat dari artinya dengan begitu salam juga berarti Do’a ya.. akhi dan ukhti.  Memberi salam juga dapat mempererat tali sillaturrahmi. Orang yang memberi salam berarti menghormati dan orang yang diberikannya salam akan merasa dihargai. Hal ini akan memberikan pikiran positif dari sesama muslim. Selain itu, Assalamualaikum juga menjadi identitas seorang muslim karena hanya orang muslim yang melakukannya. Dalam Al-Quran juga telah disebutkan sebanyak 12 ayat pada 10 surat  salah satunya pada QS. Al-Ahzab(33) : 56 yang artinya
”Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersholawatlah kamu untuk Nabi ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa siapapun yang memberi salam akan mendapat pahala dari Allah SWT. Akan tetapi Islam melarang untuk memberi salam kepada non-Muslim. Karena
Rasulullah SAW bersabda : “ Janganlah kalian mengucapkan salam lebih dahulu kepada Yahudi dan Nasrani...” (HR. Muslim,Hurairah r.a)
Begitu juga dengan larangan menjawab salam dari orang Yahudi ataupun Nasrani.
(1399) Abdullah bin Umar r.a berkata : Nabi SAW bersabda :” Jika kamu diberi salam oleh orang Yahudi maka mereka itu berkata : Assammu alaika (binasalah kamu) maka jawablah: Wa alaika (yakni kamu juga begitu). HR Bukhari,Muslim.

Tapi, kalau lihat di TV ada yang mengucapkan salam Assalamualaikum dilanjut salam yang lain ? Nahh kita lanjut yaa, Indonesia merupakan negara yang luas yang terdiri dari berbagai macam bahasa, suku,ras,agama dan golongan. Hal itu merupakan bentuk toleransi beragama, TOLERANSI. Bicara tentang toleransi, toleransi itu apa sih?

Eitttss kita lanjut besok yaa :D

Wassallamualikum Wr.Wb



Sumber : Al-Quran

Sabtu, 04 Maret 2017

Bab 1 : Pria Asing

"Aku sangat menyukai suasana saat berada di dekatmu. Tenang, indah, menakjubkan. Persis seperti dirimu"

-&&&-

Keindahan mentari selalu diagung-agungkan oleh segelintir orang, tak khayal pula jika seorang gadis berponi itu turut menikmati keajaiban Tuhan yang seorang pun tak dapat menyangkal pesonanya. Rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai melambai-lambai bagai nyiur yang mempercantik keindahan pantai, membuat sang mentari menutup dirinya karena iri.

Sejenak gadis itu mengecek arloji yang terpasang di pergelangan tangan kanannya. Gadis itu bernapas lega ketika melihat jarum jam yang masih menunjukkan pukul 5.45 pagi, yang berarti masih ada waktu 15 menit lagi sebelum bus sekolah datang menjemputnya.

"Rein… ayolah, sebentar lagi bus akan datang" teriak gadis lain dari arah belakang gadis yang diketahui bernama Rein itu. Rein berbalik menatap gadis manis yang tengah berlari menuju ke arahnya, gadis yang telah menemani harinya selama 2 tahun terakhir, Araalyn Fransiska namanya.

Rein tersenyum, menampakkan deretan giginya yang putih lantas menghampiri Alyn yang tak kunjung sampai mendekatinya.

"Sudah kubilang, tempat itu berbahaya. Kenapa kau tak pernah mendengarku?" Sungut Alyn marah, tapi Rein hanya membalasnya dengan cengiran lebar. Ya bagaimana lagi? Rein menyukai suasana tenang yang tercipta saat dirinya duduk di tepi tebing itu, menikmati semilir angin pagi yang menularkan kesegaran, harum bunga lavender yang bermekaran di bawah kakinya yang menjuntai, serta ciptaan Tuhan yang memberinya ketenangan batin. Dan semua itu hanya dapat disaksikannya setiap pagi. Bagaimana Rein bisa menolak ketengan yang menjanjikan seperti itu? Ia butuh pikiran yang segar untuk kembali bergelung dengan buku-buku tebal yang sebentar lagi akan memenuhi pikirannya bukan?

Alyn yang mulai kesal akhirnya menarik pergelangan tangan Rein yang hanya pasrah, seakan tak ada niatan untuk melawan atau sekedar membela diri. Begitulah Rein, memang terkadang ia menjengkelkan tapi percayalah, dia satu-satunya sahabat yang mencintainya dengan tulus. Dan sekali lagi, Alyn tak akan mau kehilangannya, meski ditukar dengan batangan emas dan berlian sekalipun.

Tebing itu memang cukup jauh dari halte tempat mereka menunggu bus, mereka juga harus melewati taman dan menyebrangi jalan raya yang sudah dipastikan akan ramai seiring meningginya mentari. Jadi, mereka harus bergegas jika tak ingin ketinggalan.

Rein dan Alyn bernapas lega ketika melihat beberapa teman mereka masih berdiri di dekat halte, yang artinya sudah pasti bus itu belum datang dan meninggalkan mereka.

Tak beberapa lama, bus itu datang. Ah, rupanya kali ini bus datang lebih awal, untung saja Alyn cepat menariknya hingga ia tak ketinggalan. Pasalnya, Rein tak akan sadar keadaan apabila sudah berada tebing itu sebelum mentari meninggi dan memamerkan panasnya yang menyengat.

Rein menaiki bus itu dengan perlahan, pandangannya menjelajah mencari tempat yang sekiranya bisa ia duduki bersama sahabatnya. Namun nihil, hanya ada 2 bangku yang tersisa, 1 diantaranya sudah terisi oleh salah satu temannya dari kelas lain, dan sisanya diduduki oleh seorang pria yang belum pernah Rein temui selama 2 tahun bersekolah di SMKN 1 Bawang. Rein sedikit bingung, tapi ia mencoba untuk tak ambil pusing. Toh, mungkin saja Rein lupa, atau dia anak baru. Ah, entahlah.

Perlu diketahui, hari ini adalah hari pertama Rein  menginjak dikelas 12, jadi meskipun selama libur semester lalu Rein tak akan bangkit dari mimpi indahnya sebelum jam dinding menunjukkan pukul 8.00 dan jam wekernya berbunyi sebanyak 7 kali, tapi hari pertama selalu spesial bagi Rein, hari yang akan mengubah kehidupannya untuk setahun yang akan datang dan seterusnya. Jadi, tentu saja hari ini ia tak boleh terlambat.

Rein berhenti sejenak hendak berbalik dan memutuskan untuk duduk bersama tetangga kelasnya daripada duduk dengan pria yang tak diketahuinya itu. Tapi baru saja kakinya melangkah, Alyn sudah terlebih dahulu menyambar tempat duduk incarannya. Rein mendengus kesal, sedangkan empunya hanya tersenyum manis sembari menangkupkan kedua tangannya didepan dada, -memohon-

Rein lagi-lagi pasrah, lantas berjalan gontai dan mendudukkan dirinya disebelah pria asing itu. Rasa penasarannya yang kuat membuatnya takut-takut melirik pria yang tengah mendengarkan lagu lewat earphone sembari menutup kedua matanya. Tanpa sadar, sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan indah. Rein turut merasakan kedamaian ketika melihat wajah pria itu yang tenang bak genangan air dan tak memiliki beban dalam hidupnya. Tapi Rein tak ingin menduga-duga, bisa saja pikirannya tak sesuai dengan realita. Seperti sungai yang tenang, didalamnya terdapat arus yang deras, bisa saja seperti itu. Tapi sekali lagi, tentu saja Rein tak pernah berharap demikian.

Rein terpaku ketika tiba-tiba pria itu membuka mata dan mendapati dirinya tengah memandang intens pria itu. Tapi, ketika Rein ingin beralih, justru ia tak sengaja memandang manik matanya. Tak ada yang dapat dilakukannya kecuali merutuki dirinya sendiri, pasalnya meskipun pikirannya menyuruhnya untuk berhenti, tapi ia malah ingin menyelami dan menenggelamkan dirinya dalam lingkaran hitam itu. Terhipnotis, mungkin rasanya tak jauh berbeda dengan yang tengah Rein rasakan saat ini.

Pria itu memandang Rein dengan alisnya yang mengernyit bingung. Tak tahu apa yang harus diperbuatnya, sebentar lagi bus yang mereka tumpangi akan sampai, tapi sepertinya gadis di sampingnya tak berniat melepaskan pandangannya yang berbinar-binar dari dirinya. Tunggu, dari dirinya? Ya, dan sepertinya Rein lupa akan hal itu.

Pria itu berdehem pelan ketika dirasa bus akan segera berhenti, sekedar menyadarkan Rein yang masih saja membeku. Tapi, ternyata ia salah. Rein baru sadar setelah ia berdehem sebanyak 3 kali dengan suara yang cukup keras, hingga membuat semua penghuni bus menoleh kearahnya dan melemparkan tatapan bertanya.

Rein gelagapan, tentu saja. Wajahnya langsung memerah bak tomat dan dadanya naik turun karena detak jantungnya yang bekerja melebihi batas normal.

"Maaf, maaf, maaf…" Rein lantas bangkit dari duduknya dengan terburu-buru sembari menggumakan kata maaf berkali-kali. Dia sungguh malu, bagaimana bisa ia menatap seorang pria selekat itu? Namun, baru saja beberapa langkah, kakinya menyandung sesuatu yang membuatnya limbung dan mendarat mulus di lantai bus. Sontak semua mata memandangnya, sebagian ada yang tertawa, menatapnya iba dan ada pula yang memilih tak perduli.

"Rein…" Alyn hendak membantunya. Tapi Rein bergerak cepat, bangkit lantas berlari meninggalkan bus tanpa sepatah kata pun dan memasuki area sekolahnya dengan perasaan yang tak dapat ia gambarkan.

Pria itu sedikit merasa bersalah ketika melihat Rein, bagaimanapun ia yang membuat Rein bertingkah bodoh seperti itu. Tapi untuk apa? Tetap saja kan itu salah Rein sendiri? Tentu saja ia tak bertanggungjawab atas semua yang terjadi pada gadis itu. Tapi… Entahlah, yang jelas ia merasakannya. Dan sekali lagi, ia terlalu sangsi untuk mengucapkan maaf ataupun kalimat yang dapat menenangkan gadis itu, bahkan untuk tersenyum pun rasanya ia tak mampu.

"Maafkan aku" Ujar pria itu pelan ketika dirasa hanya dirinya yang berada dibus itu, lantas bangkit dan berjalan menuju papan pengumuman yang akan menunjukkan kelas tempatnya belajar untuk jangka waktu setahun mendatang. Untunglah, keadaannya tak seramai biasanya, jadi ia cukup leluasa untuk mencari namanya di dalam daftar.

Kelas XII Akuntansi 1
1. Agatha Rein
2. Agistin Nur Aisyah
3. Alifia Zulian
4. Andi Yulianto
5. Araalyn Fransiska
6. Bagas Saktiawan
7. Brigas Fachry
8. Calvin Antariksa

Sejenak ia terpaku, bukan tentang kelas mana yang akan ditempatinya. Tapi, seseorang yang akan menjadi teman kelasnya nanti. Ada 1 nama yang mengganggu pikirannya, Agatha Rein. Apakah Rein adalah Agatha Rein yang akan jadi teman sekelasnya? Gadis yang ia ketahui namanya saat seorang temannya memanggil namanya tatkala ia terjatuh? Gadis yang sama yang sempat menatapnya dengan tatapan berbinar-binar? Mungkinkah?


-&&&-